|
Terus berinovasi! Inilah yang terus dilakukan Nila Puspita (24) untuk mengembangkan usaha batik yang telah dirintis orangtuanya sejak tahun 1985. Batik hasil karya Nila bersama kakak dan adiknya memang belum menembus pasar luar negeri. “Batik buatan kami masih jago kandang, soalnya belum pernah diekspor, dan jualnya paling jauh ya ke Jakarta setelah ikut dua kali pameran,” kata Nila yang ditemui ketika ikut pameran kerajinan di Jakarta beberapa waktu lalu. Pemain di usaha kerajinan batik, menurut lulusan Manajemen Universitas Brawijaya Malang ini, sudah terlalu banyak. Jadi, kalau tidak terus berinovasi untuk menemukan corak baru, produk batik itu pasti tenggelam. “Di Malang saja, banyak pengusaha batik tulis. Jadi, kalau hanya membuat batik tulis dengan corak Madura, ya mesti ketinggalan dan enggak laku. Harus membuat corak yang sesuai selera konsumen, artinya tidak menyimpang dari pakem batik,” ujar pemilik rumah batik Antique di Malang, Jawa Timur, ini. Sekarang, kata anak keempat dari enam bersaudara ini, bukan hanya corak pada batik yang terus berubah sesuai selera konsumen lokal, bahan baku batik pun terus berganti. Bahan baku batik lukis tidak hanya dari sutra China dan lokal, tetapi juga dari katun, serat nanas, dan serat pisang. Warna pada lukisan pun agak berbeda dengan batik pada umumnya karena lukisan pada batik pun sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen dan warna cenderung modern tanpa harus meninggalkan kesan batik tradisional. Dengan bahan sutra yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan alat tenun mesin (ATM) untuk produk Tahi Silk dan sutra China yang diolah, bisa menampilkan ciri khas batik Malang kontemporer. “Batik lukis juga sudah diproduksi di mana-mana sehingga harus putar otak untuk menciptakan produk batik yang beda. Kami mulai membuat batik lukis timbul sehingga berbeda dengan yang lain. Apalagi, lukisan tidak sekadar wajah pemesan, tetapi bisa lukisan peristiwa, misalnya pemberi order dengan anjing, kucing, atau lukisan apa saja,” ujar perempuan lajang yang kini melakukan seleksi calon pembatik di usaha yang dirintis sang ibu, Ny Nurhayati. USAHA batik lukis, menurut Nila, sangat prospektif, baik di pasar lokal maupun pasar internasional. Dengan mengandalkan empat pelukis dan sedikitnya 15 pembatik usaha batik, pesanan terus meningkat. Rata-rata setiap hari, lima sampai enam lembar sarung bisa selesai dikerjakan pembatik yang membawa pekerjaan ke rumah masing-masing. Untuk sarung, penggarapannya minimal tiga hari, tergantung rumitnya lukisan yang dikerjakan. Harga batik lukis dari sutra atau katun berupa setelan sarung dan selendang minimal Rp 800.000, sedangkan blus perempuan dengan bahan baku serat pisang atau serat nanas yang kini digandrungi rata-rata dijual dengan harga Rp 650.000. Sementara blus dari serat nanas dan pisang tanpa payet bisa mencapai Rp 550.000. Kesulitan usaha batik yang dikembangkan Nila bersama sang kakak, Tria (26), serta dua adiknya, Verial (21) dan Anisa (19), adalah pada saat panen tembakau di wilayah Malang. Jumlah pembatik akan terus menyusut karena setiap hari mereka mendapat upah, sementara kalau membatik, upah baru dibayar setelah pekerjaan dikembalikan. Padahal, seperti sekarang, sangat butuh banyak pembatik karena pekerjaan menumpuk. “Pembatik memilih jadi buruh tani ketimbang membatik saat musim panen tembakau. Jadi, kalau ada order, sering tertunda penggarapannya. Salah satu kiat agar ketergantungan kepada pembatik yang umumnya ibu rumah tangga berkurang, kami ingin cari pembatik muda yang tak terkendala musim,” ujar Nila, yang pada Agustus mendatang berencana mengikuti pameran di Belanda. Bagi Nila, dengan dukungan tenaga pembatik di usahanya, berapa pun order dari pelanggan bisa dipenuhi. Apalagi usaha kecil menengah (UKM) yang sudah menjadi binaan PT Pertamina Unit Pemasaran V Surabaya ini bukan hanya membuat batik lukis, tetapi juga mengerjakan pakaian seragam, pakaian pengantin, busana muslim, dan berbagai macam pernak-pernik untuk siraman. Produk batik lukis hasil karya perempuan asal Malang ini memang masih jago kandang, bahkan tak jarang konsumen membayar secara mencicil. Kendati demikian, usaha ini terus berkembang karena order makin meningkat. “Makin banyak pesanan, berarti harus memutar otak untuk menciptakan corak baru sesuai selera konsumen. Harus terus berinovasi agar tidak cuma jago kandang,” katanya. (kompas) |
| Profile |
|---|
Hj. Dr. Nurhajati, SE.,MS., adalah pendiri AntiQue House of Batik & Kebaya yang didirikan pada tahun 1984. Usaha ini berawal dari proses penjahitan baju batik dan seragam, yang kemudian berkembang dalam bidang :
|
| Products |
|---|
|
| Service |
|---|
|
| Shoutbox |
|---|
|
|